Header Ads Widget

Barangkali Bukan Kamu


CerpenBarangkaliBukanKamu

Seperti yang pernah kukatakan pada diriku sendiri, mungkin ia memang belum pernah benar-benar tegas terhadap perasaannya. Dan tanpa kusadari, aku pun ikut terjebak dalam ruang abu-abu yang sama, ruang di mana harapan dan keraguan berjalan berdampingan tanpa pernah saling menjelaskan arah. Aku membuatnya menunggu terlalu lama untuk sebuah balasan yang sebenarnya sudah kubaca sejak awal. Pesannya tidak pernah luput dari mataku, hanya saja aku memilih diam. Bukan karena benci, bukan pula karena ingin menghukumnya, tetapi karena aku sedang berusaha memahami diriku sendiri.

Mungkin ada bagian dari diriku yang masih berharap ia akan mengerti tanpa harus kujelaskan. Bahwa diamku bukan permainan. Bahwa jarak yang kubuat bukan semata-mata karena aku ingin pergi. Ada terlalu banyak hal yang belum selesai di dalam kepalaku, terlalu banyak pertanyaan yang bahkan belum mampu kujawab untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku memberikan jawaban kepada seseorang ketika aku sendiri masih sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya kuinginkan?

Mungkin aku juga merasa bersalah karena membiarkannya berada dalam ketidakpastian. Namun, di sisi lain, aku tahu bahwa memberikan jawaban hanya karena merasa tidak enak bukanlah bentuk kejujuran. Aku tidak ingin mengatakan sesuatu hanya untuk membuatnya tenang malam itu, lalu kembali membuatnya bertanya-tanya beberapa hari kemudian. Aku pernah berada di posisi seseorang yang menunggu kepastian, dan aku tahu betapa melelahkannya ketika seseorang terus memberikan harapan tanpa pernah benar-benar memilih untuk tinggal.

Mungkin karena itulah aku memilih diam.

Sialnya, dia selalu menggangguku lagi.

Layar ponselku tiba-tiba menyala kembali. Cahaya putihnya terasa terlalu terang di ruangan yang mulai gelap, seolah sengaja menarikku kembali ke sesuatu yang sebenarnya sudah ingin kutinggalkan. Aneh, jarak antara mataku dan layar terasa begitu dekat. Kata-kata itu tidak hanya terbaca, tetapi juga masuk perlahan ke dalam ingatan yang belum sepenuhnya selesai.

Notifikasi itu muncul lagi.

Namanya.

Aku membuka pesannya.

Membaca.

Lalu diam.

Bukan sekali. Bukan dua kali. Aku membaca setiap kalimatnya tanpa tergesa, mencoba mencari sesuatu yang baru. Penjelasan, mungkin. Namun, yang kutemukan justru pola lama yang kembali berulang.

Geral: Kamu baca, kan?

Geral: Aku lihat centangnya biru... tapi kamu nggak balas.

Geral: Aku salah, ya?

Aku menghela napas pelan. Kalimat-kalimat itu terasa familiar, hampir seperti percakapan lama yang diputar ulang. Bukan pertanyaan yang baru. Ia selalu bertanya setelah jeda panjang, tetapi tak pernah benar-benar menjelaskan apa yang ingin ia pertahankan.

Jariku sempat bergerak di atas layar. Aku mengetik, lalu menghapusnya kembali.

Aku bahkan sempat menulis panjang.

Tentang bagaimana aku merasa lelah.

Tentang bagaimana setiap kali ia datang kembali, sebagian dari diriku ikut membuka pintu yang sebenarnya sudah susah payah kututup.

Tentang bagaimana aku tidak tahu apakah ia datang karena benar-benar ingin tinggal atau hanya tidak terbiasa kehilangan seseorang yang pernah selalu ada.

Semua itu kutulis dalam beberapa baris.

Kemudian kuhapus.

Aku menatap ruang percakapan yang kembali kosong. Tidak ada pesan dariku. Tidak ada penjelasan. Hanya namanya yang masih berada di bagian atas layar, seolah keberadaannya memiliki cara sendiri untuk mengingatkanku pada sesuatu yang belum selesai.

Mungkin ia tidak pernah tahu bahwa setiap kali ia menghubungiku, aku selalu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kembali menjadi diriku sendiri.

Ada hari ketika aku merasa sudah baik-baik saja. Aku bisa tertawa, bekerja, berbicara dengan orang lain, melakukan hal-hal kecil yang kusukai tanpa memikirkan apa pun. Namun, kemudian satu pesan darinya muncul dan semuanya seperti kembali ke tempat semula.

Aku membenci kenyataan bahwa satu nama masih memiliki kekuatan sebesar itu terhadap perasaanku.

Aku membenci bahwa aku masih membaca pesannya dengan hati-hati.

Aku membenci bahwa terkadang aku masih berharap menemukan sesuatu yang berbeda di antara kalimat-kalimatnya.

Dan mungkin yang paling kubenci adalah kenyataan bahwa aku masih peduli.

Karena tiba-tiba aku sadar, yang ia tunggu mungkin jawaban, tetapi yang selama ini kutunggu adalah kepastian. Dan keduanya tidak pernah bertemu di tempat yang sama.

Rasa lelahku tak pernah dilihat, tidak pernah dimengerti. Sulit dijelaskan. Seolah aku ingin memulai hidup dari awal, dilahirkan kembali dengan hati yang lebih tenang.

Aku ingin menggambar ulang seluruh lukisanku di atas kertas kosong yang kupilih sendiri, kertas yang bersih, yang tidak lagi membawa coretan ragu atau warna yang terlanjur salah. Setelah memahami sedikit demi sedikit isyarat semesta, aku mulai melihat semuanya dengan cara berbeda.

Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari jawaban dari orang lain sampai lupa bahwa ada beberapa jawaban yang harus kutemukan sendiri.

Aku mulai memahami bahwa tidak semua perasaan harus diperjuangkan sampai akhir. Tidak semua orang yang datang harus dipertahankan. Ada orang yang hadir hanya untuk memperkenalkan kita pada bagian diri yang sebelumnya tidak pernah kita kenal. Ada yang datang untuk membuat kita bahagia, ada pula yang datang untuk mengajarkan bagaimana rasanya kecewa. Ada yang menetap, dan ada yang hanya meninggalkan jejak sebelum akhirnya pergi.

Dulu aku mengira kehilangan selalu berarti kegagalan.

Sekarang aku mulai berpikir bahwa mungkin tidak.

Mungkin beberapa kehilangan justru merupakan bentuk perlindungan yang baru bisa kupahami setelah semuanya berlalu.

Oke, hari ini mungkin terasa seperti sebuah cuplikan pendek yang sengaja ditayangkan kepadaku, semacam trailer sebelum cerita yang sesungguhnya dimulai. Sebuah percobaan, sebuah trial, yang memperlihatkan apa yang perlu kupelajari dan apa yang harus kulepaskan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa seakan diberi kesempatan untuk memperbaiki arah, menata ulang langkah, serta memulai kembali segalanya dari titik yang lebih sadar daripada sebelumnya.

Aku tidak tahu seperti apa cerita setelah ini.

Aku juga tidak tahu apakah akan ada seseorang yang datang dengan cara yang lebih sederhana, lebih jelas, dan lebih tenang. Seseorang yang tidak membuatku terus menebak apa arti sebuah perhatian. Seseorang yang tidak membuatku mempertanyakan apakah aku cukup berarti untuk dipilih.

Namun, kali ini aku tidak ingin terburu-buru mencari jawabannya.

Tetapi setidaknya aku sudah mulai berjalan keluar dari tempat yang selama ini membuatku terus berputar di lingkaran yang sama.

Besok mungkin masih terasa berat.

Lusa mungkin aku akan kembali mengingatnya.

Namun, kali ini aku tahu satu hal.

Aku tidak harus kembali hanya karena pernah merasa nyaman di sana.

Aku tidak harus tinggal hanya karena pernah berharap.

Dan jika benar begitu, aku ingin percaya bahwa halaman berikutnya akan berbeda.

Aku yang berubah.

Aku yang memegang pena.

Aku yang menentukan warna.

Aku yang memilih kertasnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menggambar seseorang di dalamnya.

Aku ingin menggambar diriku sendiri terlebih dahulu.

Post a Comment

0 Comments